Kamis, 19 Juli 2012

Mau jadi penulis?


oleh lana molen

Oke brother. Kali ini kita akan membahas bagaimana semestinya calon-calon penulis dalam mengejar mimpinya menjadi seorang penulis profesional. Penulis yang diakui khalayak sebagai penulis produktif yang punya kualitas. Halah.

Apa yang kupaparkan nantinya bedasarkan kisah nyata atau pengalamanku sendiri selama ini. Mulai dari niat untuk menjadi penulis sejak tahun 2009, proses mengejar cita-cita tersebut, dan hasil sementara hingga saat ini. Ada banyak cerita dan pengalaman yang cukup penting untuk kubagikan pada petitulen sekalian. Ini penting bagi mereka yang sampai sekarang masih saja bercita-cita ingin jadi penulis namun tak ada satu karya pun yang dapat ditelurkan.

Sebenarnya sob, aku adalah tipe orang pengkhayal. Banyak sekali khayalanku hingga kadang berimajinasi tentang sesuatu yang tak masuk akal, seperti menembus lorong waktu ke zaman berabad-abad silam atau berkhayal sebagai seorang detektif bayaran yang dapat menuntaskan apapun, termasuk korupsi (biar dilirik KPK). Pun juga, aku senang bercengkrama dengan masa laluku dengan berkhayal; saat aku dan adik-adikku melalui masa kecil yang keras, pengalamanku di lima pesantren, hingga persoalan 'cinta monyet' yang membelitku. Ya, aku memang terlalu senang berkhayal. Aku, tau kalian juga senang berkhayal kan? Murah dan enak. Hahahaha.
Cukup!

Disini, aku mengajak petitulen untuk kembali ke kebelakang. Lihat, kita ini sudah hidup belasan atau puluhan tahun. Ada banyak ide berupa tema, judul, atau bab yang bisa kita eksplorasi dari pengalaman hidup kita. Tentang masa kecil, remaja, saat sakit hati, jatuh cinta, masuk parit, pertama kali jatuh dari pohon, atau apalah. Pasti banyak sekali potongan mosaik yang mengambang-ngambang di alam pikiran kita. Oh, mungkin ada yang beralasan begini,

"Bang, selama hidup di dunia ini aku cuma makan-tidur sama kentut doang, jadi enggak ada hal menarik yang bisa diceritakan!"
"Wah cerita kamu pasti best seller ni. Karena cuma kamu di dunia ini yang hidup cuma makan-tidur sama kentut doang!"
Jadi, alasan enggak ada ide hanyalah alasan klasik dari sifat malas. Catat!
Oke, aku tau, masalah yang muncul tentang 'ide' adalah, kita punya selera ketika menulis. Tidak semua orang tertarik menulis fiksi! Persis, tidak semua orang juga tertarik menulis non fiksi! Ini sebenarnya yang menjadi masalah bagi penulis pemula. Terlalu milih-milih. Disuruh buat cerpen, "bukan gaya saya, saya suka tulisan yang alamiah."

"Nevermind! Coba tulis makalah?"

"Ah, malas lah!"

Ujung-ujungnya malas juga. Ya, sebenarnya kendala para penulis pemula itu adalah rasa malas yang sangat-sangat-sangat dibesar-besarkan.

Kita ambil hikmah dari ajang Indonesian Idol. Menjadi seorang penulis profesional, aku rasa mirip dengan menjadi seorang penyanyi profesional. Lihat saja, karakter vokal dari beberapa kontestan. Setiap kontestan memiliki karakter vokal dan genre yang berbeda. Sebut saja Dion dengan aliran swing dan si Kribo (aku lupa namanya) dengan karakter vokal nge-rock. Mereka bernyanyi dengan bagus. Namun, coba dengar komentar Anang yang menilai Dion, "Dion, kalau kamu bertahan di swing penonton akan bosan." Lihat siapa yang akhirnya juara. Regina adalah tipe penyanyi yang mampu memukau juri dan penonton bukan hanya karena karakter vokalnya, namun karena ia mampu memberikan warna pada setiap lagu yang ia bawakan. Mungkin kalau disuruh bawain lagu dangdut, pasti dia enggak akan menolak. "Ini tantangan!" katanya.

Begitu pula seharusnya calon penulis. Ia harus mau menulis apa saja. Saya katakan 'mau' bukan 'mampu'. Disuruh buat cerpen, oke! Opini? Enggak masalah! Artikel? Why not? Kalau makalah? Hadoooh! Oke2, aku tau membuat makalah memang membosankan.

Satu saat nanti, setelah kita mencoba berbagai macam tulisan, karakter tulisan kita pasti akan terlihat. Perlu diketahui juga, bahan bacaan sangat memengaruhi tulisan kita. Kalau kamu senang baca novel komedi, dan memang punya selera humor yang tinggi. Tulisan kamu nantinya pasti selalu diselipi humor-humor menggelitik. Saat orang yang membacanya tertawa, disitulah letak kepuasannya. Begitu juga orang yang senang membaca karya sastra klasik. Tulisannya pun akan terbaca berat oleh orang-orang awam. Namun, disaat orang yang mengerti membaca karya kamu dan terpikat, disitulah letak kepuasan yang mungkin hanya kamu sendiri yang merasakannya. Karakter tulisan tak mungkin bisa diciptakan dengan proses menulis yang hanya berlangsung seminggu sekali. Rutinitas menulis yang sifatnya repetisi akan menelurkan karakter tulisan kita secara alami. Minimal satu hari satu tulisan. "Kalau serius jadi penulis ne! Kalau enggak setahun sekali pun enggak apa-apa."

Masalah lain muncul, yaitu waktu. Banyak pemula yang selalu mengeluh karena waktu yang 24 jam begitu singkat buatnya. Alasan tugas, kerja, atau 'enggak sempat' selalu menjadi momok tersendiri. Akhirnya, tidak ada yang bisa dihasilkan kecuali keluhan-keluhan yang semakin lama semakin berlemak di otak. Padahal, baik jin dan manusia, selama masih tinggal di dunia, ya waktunya tetap 24 jam. Sekarang, tergantung komitmen untuk meluangkan beberapa jam waktu untuk mulai menulis. Tak masalah walau hanya satu paragraf. Buat saja, yang penting istiqomah. Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Remember it.

Dulu aku juga mengeluh tentang waktu. Sekarang, kalau ingin mengeluh, ya tetap tentang waktu. Tapi tak ada gunanya mengeluh. Akhirnya, Aku mulai menulis setiap hari di sebuah binder. Pertama kali menulis langsung proyek novel. Di halaman awal kubuat para pemerannya. Anak mudanya tentu aku sendiri. Kalau tidak salah, judulnya, "Ketika Cinta Bersahabat". Saat itu belum ada  komputer apalagi laptop. Bayangkan menulis di atas kertas. Aku begitu hati-hati menulis untuk meminimalisir kesalahan. Setelah berminggu-minggu aku kembali melihat tulisan-tulisanku.

"Busyet! Ini tulisan kok jelek amat! Ceritanya enggak karu-karuan. Kata-katanya campur aduk! Bahasanya lebay!" Dan ntah apalagi kesalahan yang membuat keningku berkerut. Tapi sob, aku menyadari ada perkembangan di tulisan-tulisanku berikutnya. Kurang puas, aku tanya sama temanku, Indah.

"Ia, kelihatan tulisanmu mulai bagus. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya," kata si Indah yang setiap hari selalu membaca perjalanan novelku.
"Waccaauuu! Mantaf gan!" eksperiku kala itu.

Walau akhirnya novel "Ketika Cinta Bersahabat" harus dimusiumkan karena kehabisan ide.

Lalu, aku mulai menulis puisi. Waktu axis masih nyediain 1000 sms gratis, setiap hari puisi-puisiku bakal kukirim send all melalui sms kepada teman-teman. Berikutnya aku menjajal cerpen. Ada banyak cerpen yang kubuat. Tidak berhenti sampai disitu, aku mulai menulis esai untuk mengikuti sebuah kompetisi, menulis opini untuk majalah kampus, artikel islami untuk buletin jumat sampai jenis tulisan jurnalistik, seperti features, stright news dan soft news. Babat habis.
Akhirnya, aku menemukan gaya tulisanku. Entah kenapa genre tulisanku adalah komedi. Aku juga bingung. Tapi, aku merasa enjoy, lepas, dan mengalir ketika menuliskan cerita atau motivasi dalam balutan anekdot yang kadang terkesan lebay. Tapi jangan salah, aku selalu menyelipkan inspirasi dibalik setiap tulisanku, walaupun hanya sebagian orang yang mungkin menyadarinya.

Lalu, karena aku telah yakin bahwa karakter tulisanku bergaya komedi inspirasi. Aku bertekad membuat tulisan selama 100 hari sesuai dengan karakter tulisanku. Dari awal aku memang meniatkan, nantinya tulisanku ini harus terbit. Apapun ceritnya. Alhamdulillah akhirnya tercapai.

Oke, udah panjang kali ni.

Di paragraf terakhir ini aku mau menekankan pada kalian, setiap keinginan, visi, atau cita-cita harus dibalut dengan yang namanya target. Contoh, kalau seseorang ingin menjadi dokter, ia harus masuk jurusan kedokteran, jangan masuk jurusan pertanian. Seseorang mahasiswa kedokteran juga diberi target oleh universitas untuk menyelesaikan pendidikannya. Jika ia tidak mampu menyelesaikan pendidikannya, jangankan jadi dokter, jadi perawat aja enggak bisa. Begitu juga dengan calon penulis, ia harus punya target yang jelas. Misalnya, dalam satu bulan ini aku harus menghasilkan 5 cerpen. Dua bulan ini, tiga bulan ini, atau empat bulan ini aku harus ngapain. Ketika target-target jangka pendek tadi dapat terpenuhi, bersyukurlah dan berbahagialah, karena anda telah meraih mimpi-mimpi kecil anda.
Yakinlah, mereka yang dapat meraih mimpi di langit sana pasti melalui raihan mimpi-mimpi kecil yang mereka gantung di langit-langit kamarnya.

Keep fighting! Trust me, it’s work!

mau jadi penulis?? gabung yuk di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia , caranya buka link ini http://famindonesia.blogspot.com/2012/07/panduan-dan-formulir-pendaftaran.html


1 komentar:

  1. ayo terbitkan karya. bisa juga lewat jalur independent. bisa cek http://dar-inshirah.blogspot.com/ ;-)

    BalasHapus