Jumat, 31 Agustus 2012

MENGEJAR KETERTINGGALAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER




Oleh : Setiyono

Indonesia pernah dipandang oleh dunia Internasional sebagai guru bagi Malaysia, hal ini terjadi sekitar tahun 1970. Saat itu pendidikan di Indonesia benar-benar telah mengangkat harkat dan martabat bangsa, sehingga banyak para guru dan ustadz yang diminta untuk mengajar dimalaysia dan juga diminta untuk memberikan pemahaman Islam kepada rakyat Malaysia. Kini prestasi itu sudah tidak disandangkan lagi, karena Malaysia dalam hal pendidikan sudah jauh mengungguli. Faktor utama adalah lemahnya pola pendidikan pembentukan karakter bangsa Indonesia, sehingga pasca reformasi pun bangsa ini masih jua dilanda permasalahan yang sebenarnya itu adalah klasik, yakni permasalahan politik, hukum, ekonomi, dan budaya.
Urgensi dari pembentukan karakter bangsa ini dikarenakan kondisi Indonesia yang cukup terpuruk walaupun secara kuantitas populasi penduduknya jauh lebih besar ketimbang Malaysia, singapura, Thailand, dan Negara-negara maju lainnya dengan jumlah penduduk yang relatif kecil dibandingkan dengan Indonesia. Selain itu juga kuantitas dan kualitas sumber daya alam Indonesia sangat luar biasa. Memang, Indonesia memiliki begitu banyak orang-orang yang bergelar sarjana dan bahkan doctor, yang dibuktikan dengan ijazah, namun apalah artinya memiliki ijazah tapi tidak memiliki karakter. Karena yang mampu mengangkat martabat bangsa ini dimasa depan bukanlah ijazah, melainkan adalah karakter.
Sedikit bercerita terkait dengan hal yang berhubungan dengan pembentukan karakter ini, ketika saya berselancar di internet, saya menemukan satu foto menarik yang diupload oleh salah seorang ayah yang saya kenal, isi dari foto itu adalah seorang anak laki-laki (anak dari ayah tersebut) yang sedang duduk menghadap perangkat computer dan tepat seperti seorang pemuda ataupun orang tua mengetik. Setelah saya membaca sedikit penjelasan dari pengupload foto, benar memang bahwa anak tersebut sedang mengetik, mengetik untuk berlatih membuat artikel. Sebuah tindakan yang layak untuk diapresiasi, seorang anak dengan tafsiran usia yang belum melewati 15 tahun (karena saya juga mengenalnya) mau berlatih untuk menulis artikel, tentu kita berharab semangat yang demikian dimiliki juga oleh anak-anak lainnya yang tumbuh dan berkembang di negeri tercinta ini. Karena saya yakin, semangat untuk menulis artikel akan berbanding lurus dengan semangat untuk membaca. Hal seperti ini sebenarnya sudah termasuk kedalam salah satu pembentukan karakter, karakter untuk anak bangsa. Selain itu hal yang paling mendasar yakni nilai-nilai keagamaan untuk pengontrolan moral juga harus diselaraskan. Karena, sangat penting kiranya bagi para orang tua dan juga pemuda yang memperhatikan nasib bangsanya dimasa yang akan datang untuk turut serta dalam melakukan pembentukan karakter bagi anak-anak sejak mereka masih berada pada usia yang relatif belum bisa dikatakan sebagai pemuda (Baca ;definisi pemuda menurut UU No 40 tentang kepemudaan). Sehingga apabila pembentukan karakter ini mampu dilakukan oleh orang tua dan para pemuda yang peduli, dan membuat anak-anak tidak tersibukan dengan hal-hal yang bersifat penyelewengan moral seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan hal negatif lainnya. Maka besar kemungkinan bangsa ini akan mampu mengejar ketertinggalan dari Negara-negara lain, karena kondisi generasi hari ini adalah gambaran bangsa dimasa depan.
Banyak para pengamat yang mengatakan bahwa masalah  pendidikan karakter bangsa ini terletak pada kurikulum, saya sependapat dengan hal itu. Karena kurikulum yang ada saat ini cenderung mengarahkan peserta didik untuk bergelut dengan banyaknya mata pelajaran yang kurang mengarah kepada pembentukan karakter, contoh jam pelajaran tentang keagamaan yang menjadi ideologi para pengagas perjuangan bangsa ini dan nilai-nilai keIndonesiaan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mata pelajaran yang “tidak mencerminkan pembentukan karakter bangsa”. Padahal bahaya dari suatu bangsa yang tidak memiliki karakter adalah dijajah oleh bangsa lain, dan terbukti saat ini Indonesia telah dijajah oleh kolonialisme dan imperialisme (sytem ekonomi). Mendesak kiranya bangsa ini untuk reformasi kurikulum pendidikan, dengan kurikulum yang mendukung langsung pembentukan karakter, demi terwujudnya Indonesia yang jaya dimasa depan.

Salam Indonesia.
(Mahasiswa Jurusan Planologi, Fakultas Teknik UIR) 
Sumbere: http://setiyonotiyouir08.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar